Share This Post

Budaya

Arsitektur Kota Bandung – Dulu dan Kini

Arsitektur Kota Bandung – Dulu dan Kini

Arsitektur dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Arsitektur lahir dan berkembang dari peradaban manusia yang semakin mengalami kemajuan. Faktor sosial juga berpengaruh terhadap langgam sebuah arsitektur lokal. Seperti halnya bentuk candi di Indonesia yang menyerupai candi di India,  maupun tipologi arsitektur kolonial di beberapa kota bekas penjajahan Belanda di Indonesia. Setidaknya terdapat “sisi positif” dari penjajahan Belanda di Indonesia -bukan berarti kolonialisme merupakan hal yang diperbolehkan- yaitu peninggalan bangunan-bangunan dengan karya arsitektur colonial yang sarat dengan nilai sejarah yang tinggi.

Bandung adalah salah satu kota yang memiliki banyak karya arsitektur kolonial. Hal tersebut adalah akibat dari kebijakan Gubernur Jenderal J.P. de Graaf van Limburg Stirum yang pada tahun 1915 ingin memindahkan ibu kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung dengan alasan bahwa Bandung dianggap lebih nyaman untuk ditinggali. Oleh karena itu, pemerintah Belanda akhirnya mendatangkan sejumlah arsitek andal dari negaranya untuk merencanakan tata kota Bandung.

Akulturasi budaya yang harmonis pun tercipta melalui tangan dingin arsitek-arsitek tersebut, antara lain, C.P. Wolff Schoemaker, A.F. Aalbers, Maclaine Pont, FJL Gheijsels, dan masih banyak lagi lainnya yang terabadikan dalam bangunan-bangunan yang dikenal dengan gaya arsitektur Indo-Eropa. Sebagai contoh, Schoemaker dalam setiap rancangannya selalu berupaya untuk memadukan unsur budaya timur dan barat. Unsur lokal yang kental tercermin dari penggunaan bentuk atap khas rumah-rumah tradisional Indonesia dengan material lokal. Dan seperti halnya pola tata ruang yang dapat ditemukan di beberapa kota bekas kolonial lainnya, bangunan-bangunan di kota Bandung memiliki orientasi ke arah pegunungan. Hal tersebut mengadopsi dari filosofi landscape tradisional Jawa, yaitu bangunan dan lingkungan harus berorientasi ke arah sesuatu yang dianggap sakral.

Iklan

Arsitektur Indo-Eropa di kota Bandung terkenal dengan tipologi image bernama Art Deco. Art Deco merupakan gaya arsitektur yang mengekspresikan kekaguman manusia terhadap kemajuan teknologi. Ciri khasnya yaitu memiliki elemen dekoratif geometris yang tegas dan keras. Dunia internasional menempatkan kota Bandung pada peringkat ke-9 dalam kategori kota yang memiliki bangunan Art Deco dalam jumlah banyak. Art Deco yang berkembang di Bandung adalah Streamlined  Deco, Floral Deco dan Nautical Deco.  Bangunan-bangunan tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

sumber : sebandung.com

sumber : sebandung.com

  1. Villa Isola

Villa Isola terletak di kawasan pinggiran utara kota Bandung, pada sisi kiri jalan menuju  Lembang (jalan Setiabudhi). Villa ini dibangun pada tahun 1933 oleh pemiliknya yang bernama Dominique Willem Berretty. Saat ini gedung ini digunakan sebagai gedung rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

sumber : wikimapia.org

sumber : wikimapia.org

2. Hotel Preanger

Terletak di jalan Asia-Afrika, fasade hotel ini didominasi oleh bentukan geometris kaku dan tegas, ciri khas arsitektur Art Deco.

Sumber : www.republika.co.id

Sumber : www.republika.co.id

3. Gedung Kantor Pusat Bank Jabar

Gedung yang terletak di persimpangan jalan Braga dan Naripan ini merupakan karya dari arsitek terkemuka Hindia Belanda, Albert Frederik Aalbers. Dibangun pada tahun 1935 dengan dominasi bentuk kurva linier, yang juga disebut sebagai gaya Streamlined Art Deco. Awalnya gedung ini digunakan sebagai kantor Kas Simpanan Hindia Belanda yang pertama (DENIS Bank) dan saat ini telah menjadi milik Bank Jabar.

Sumber : www.indonesia-tourism.com

Sumber : www.indonesia-tourism.com

4. Hotel Saavoy Homann

Aalbers juga merancang hotel Homann, yang terletak di Jl. Asia-Afrika. Dahulu bangunan ini adalah milik Mister Homann yang berkebangsaan Jerman yang didirikan pada tahun 1871, dimana saat itu hotem ini merupakan hotel terbesar se Asia Tenggara. Setelah kemerdekaan Indonesia, hotel ini diambil alih oleh grup hotel Bidakara sehingga namanya pun berubah menjadi Savoy Homann Bidakara Hotel, hingga saat ini. Renovasi telah dilakukan terhadap hotel ini pada tahun 1980an demi menjaga keutuhan konstruksi dan arsitektur bangunan.

Arsitektur bandung saat ini dapat dikatakan memprihatinkan. Pasalnya, beberapa gedung bioskop yang bergaya Art Deco saat ini telah dibongkar, berganti menjadi pusat-pusat perbelanjaan maupun ruko yang secara arsitektural mematahkan benang merah Art Deco yang menggambarkan hubungan arsitektur Bandung masa lalu, masa kini dan yang akan datang. Beberapa contoh bangunan bioskop yang telah hilang yaitu Bioskop Oriental, Bioskop Elita, Preanger Theater, Braga Sky, dan lain-lain. Hal tersebut menyiratkan rendahnya wawasan akan budaya dan arsitektur yang dimiliki oleh para developer, pun kebijakan pemerintah setempat yang patut dipertanyakan terkait dengan perizinan.

Bertolak dari kondisi ini, sudah sepatutnya jika arsitek-arsitek muda Indonesia bahu membahu dengan para praktisi konstruksi untuk meneruskan pembangunan kota Bandung yang lebih berbudaya dalam rangka mempertahankan kearifan lokal Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

CAPTCHA Validation *

Lost Password

Register