Share This Post

Tata Ruang Kota

Eksistensi Green Building di Kota Jakarta

Eksistensi Green Building di Kota Jakarta

Fenomena pemanasan global dan beragam isu kerusakan lingkungan yang beraneka ragam semakin marak dikaji dan dipelajari. Salah satu efek dari global warming adalah peningkatan suhu rata-rata harian, setidaknya 0,74°C pertahun selama dua dekade terakhir dengan dampak yang paling terasa adalah di daratan (UNEP, 2007). Berdasarkan data dari World Green Building Council diketahui bahwa bangunan gedung setidaknya menyumbangkan 33% emisi CO2, mengkonsumsi 17% air bersih, 25% produk kayu, 30-40% penggunaan bahan mentah dan 40-50% penggunaan energi untuk pembangunan dan operasionalnya. Prosentase terbesar pemanfaatan energi pada bangunan adalah pada sektor operasional, yang secara spesifik digunakan untuk pemanasan, pendinginan maupun pencahayaan bangunan.

Konsep efisiensi energi pada bangunan mewujud dalam proses konstruksi yang disebut green construction dengan produk utamanya yang disebut dengan green building. Konsep green building dianggap sebagai salah satu solusi untuk mengurangi kerusakan lingkungan, meminimalkan emisi karbon sebagai penyebab utama global warming, dan mengatasi krisis energi yang muncul sebagai dampak dari pesatnya industrialisasi pada berbagai bidang, terlebih pada sektor konstruksi.

Dalam mendukung dan mensosialisasikan penyelenggaraan bangunan dengan konsep green building tersebut telah dibentuk suatu lembaga independen yang disebut Green Building Council Indonesia (GBCI). Pada tahun 2010, GBCI telah mempublikasikan sistem rating yang disebut “Greenship” sebagai kriteria penilaian bagi seluruh bangunan gedung untuk menentukan peringkat dan sertifikasinya. Selain itu, GBCI merencanakan pada tahun 2030 setidaknya 50 bangunan dengan luasan 50.000 m2 telah tersertifikasi Greenship atau 121 bangunan dengan luasan 20.000 m2.

Iklan
Rapid-Rise-of-Green-Building

Sumber : knowledge.wharton.upenn.edu

 

Kota Jakarta, sebagai ibukota negara sudah sepatutnya menyajikan proyek percontohan kepada kota-kota lainnya terkait wacana Green Building ini. Pada tahun 2010, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum telah merintis suatu pilot project green building di Indonesia dengan pembangunan Gedung Utama Kementerian Pekerjaan Umum. Lebih jauh, Gubernur DKI Jakarta bahkan telah mengeluarkan peraturan yang tertuang di dalam Pergub DKI Jakarta nomor 38 tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau. Yang membanggakan adalah dengan Pergub tahun 2012 ini, Jakarta menjadi kota pertama di Asia Pasifik yang mewajibkan pembangunan gedung ramah lingkungan.

Terkait dengan Pergub DKI Jakarta tersebut, terhitung sejak tanggal 23 April 2013 semua bangunan di Jakarta harus memenuhi persyaratan bangunan hijau, baik bangunan baru maupun bangunan lama. Jika tidak, maka akan ada sanksi yang akan dikenakan kepada para konsultan, kontraktor dan pelaku konstruksi. Sanksi bagi bangunan baru yaitu tidak akan mendapat Izin Mendirikan Bangunan, sedangkan untuk bangunan lama tidak akan mendapat Sertifikat Layak Fungsi (SLF) Bangunan.

Peraturan tersebut hanya berlaku untuk beberapa kriteria bangunan saja yang dianggap menyumbang emisi karbon paling besar. Menurut Kepala Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan DKI, peraturan tersebut berlaku untuk perkantoran, apartemen, pertokoan, bangunan lebih dari 1 fungsi dengan luas lebih dari 50.000 m2, hotel dan sarana kesehatan dengan luas lebih dari 20.000 m2, dan sarana pendidikan dengan luas lebih dari 10.000 m2. Kriteria bangunan hijau yang dimaksudkan untuk bangunan baru merujuk kepada rating tools yang telah dikeluarkan oleh GBCI, yaitu konservasi dan efisiensi energi, konservasi air, kualitas udara dan kenyamanan termal ruang, pengelolaan lahan dan limbah, pelaksanaan pada masa konstruksi pada bangunan, dan memastikan elemen-elemen adaptasi perubahan iklim tercakup dalam desain bangunan.

Data yang didapatkan dari manajemen Green Building Council Indonesia (GBCI) menyebutkan bahwa saat ini 98% gedung di Jakarta merupakan bangunan eksisting dan 2% merupakan bangunan baru. Hingga saat ini yang telah mengantongi sertifikat bangunan hijau baru 14 gedung, termasuk jumlah yang sangat sedikit sekali mengingat betapa luasnya kota Jakarta. Berikut ini adalah 4 contoh green building di kota Jakarta yaitu :

sumber : Gedung Kementerian PU, Jakarta.

sumber : pu.go.id

  • Gedung Kementerian PU, Jakarta.

Seperti telah tersebut pada awal artikel ini, bahwa gedung Kementerian PU merupakan sebuah pilot project green building di kota Jakarta. Gedung ini masuk kategori platinum dengan nomor sertifikat : 002/PP/NB/III-2013.

sumber : www.pinterest.com

sumber : www.pinterest.com

  • Menara BCA PT Grand Indonesia, Jakarta.

Tower BCA ini selesai dibangun pada tahun 2007. Dari proses sertifikasi didapatkan bahwa gedung ini mampu menghemat konsumsi energi listrik sebesar 35% dari pemakaian pada gedung sejenis, Sedangkan sistem pencahayaannya menggunakan dominasi LED-light emitting diode serta lampu tabung T5 yang dilengkapi sensor cahaya.  Semua kriteria green building telah terpenuhi oleh bangunan ramah lingkungan ini.

Sumber : archive.kaskus.co.id

Sumber : archive.kaskus.co.id

  • Gedung Sampoerna Strategic Square, PT. Buana Sakti, Jakarta

Gedung ini merupakan salah satu gedung eksisting yang telah mendapatkan sertifikasi greenship Gold dari GBCI. Menurut General Manager SSS, Bapak Sentosa Sitia, pihaknya telah melakukan beberapa pendekatan green building yaitu melalui : penggantian appliances; water treatment yang hasil recycle-nya digunakan pada lansekap dan cooling tower; manajemen sampah dengan pemisahan sampah organik, anorganik dan berbahaya serta membentuk green team dalam manajemen gedung untuk memastikan fitur-fitur green building tersebut berjalan dengan baik.

Sumber : kkpnews.kkp.go.id

Sumber : kkpnews.kkp.go.id

  • Gedung Mina Bahari IV, kompleks Kementerian Kelautan dan Perikanan

Pada tanggal 15 Januari 2016, Menteri Kelautan dan Perikanan meresmikan gedung baru dengan konsep green building, yaitu gedung Mina Bahari IV di kompleks Kementerian Kelautan dan Perikanan. GMB IV ini sudah mengantongi Sertifikat Laik Fungsi dari Pemprov DKI Jakarta dan sertifikasi dari Green Building Assosiate, dan tercatat sebagai peringkat ke dua gedung ramah lingkungan di DKI Jakarta, setelah Kementerian PU.

Semoga kebijakan yang positif ini dapat benar-benar diberlakukan dengan tepat dan tegas dan dapat segera diikuti oleh kota-kota besar lain di seluruh Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

CAPTCHA Validation *

Lost Password

Register