Share This Post

Bangunan

Villa Isola, Bangunan Megah Saksi Sejarah Indonesia

Villa Isola, Bangunan Megah Saksi Sejarah Indonesia

Bangunan villa yang terletak di pinggiran utara kota Bandung ini merupakan salah satu peninggalan sejarah Indonesia yang memiliki latar belakang unik dengan perpaduan antara arsitektur art deco khas barat dengan unsur Jawa. Bahkan pada masa ketika Villa Isola selesai didirikan di tahun 1933, bangunan ini merupakan salah satu bangunan tercanggih di dunia.

Villa Isola merupakan bangunan milik Dominique Willem Berretty, konglomerat keturunan Jawa-Italia yang menginginkan hunian yang terpencil dan jauh dari keramaian. Berkat tangan dingin arsitek C.P. Wolff Schoemaker, tanah seluas kurang lebih satu hektar ini pun disulap menjadi sebuah hunian megah lengkap dengan rumah tiga lantai, kolam, taman, lapangan tenis, dan kebun anggur. Proses konstruksi bangunan juga memakan waktu yang sangat singkat selama 5 bulan. Schoemaker dikenal sebagai arsitek yang piawai memadankan arsitektur modern ala Eropa dengan adaptasi alam tropis, dan dalam pengerjaan Villa Isola, posisi gunung-gunung yang ada di Bandung menjadi salah satu faktor pertimbangannya.

Keunikan Villa Isola terlihat dari bentuk bangunannya yang tidak memiliki sudut, pola-pola geometris serta desain berjenjang yang diterapkan mengingatkan akan sistem percandian lokal. Jika Anda melihat bangunan Isola dari angkasa, akan terlihat bagaikan sebuah kapal selam yang mencuat dari dalam tanah. Meskipun tampilan bangunan kental dengan unsur art deco yang glamor, filsafat arsitektur Jawa juga tersirat melalui orientasi kosmik utara-selatan yang juga dapat ditemukan di beberapa bangunan sejarah lainnya di Bandung seperti gedung utama ITB dan Gedung Sate. Penggunaan sumbu kosmik ini semakin kuat dengan adanya taman memanjang di depan gedung Villa Isola yang tegak lurus dengan sumbu melintang bangunan ke arah Gunung Tangkuban Perahu.

Iklan

vila-isola

Jika melihat Villa Isola dari arah taman depan, maka Anda akan menyaksikan pemandangan arsitektural nan memukau bagaikan air bergelombang, yang timbul dari sudut bangunan yang melengkung-lengkung hingga desain taman yang berteras-teras mengikuti permukaan tanah. Keindahan alam di sekitarnya juga dapat diamati melalui setiap jendela besar yang berada di ruang-ruang di dalam bangunan serta teras yang terletak di lantai tiga bangunan Villa Isola. Peletakan jendela dan pintu yang lebar merupakan penerapan konsepsi tradisional yang menyatu dengan alam. Pemanfaatan sinar matahari tropis juga menjadi salah satu fokus desain arsitektur Villa Isola, dengan adanya ornamen garis-garis molding yang menyajikan efek bayangan yang fantastis saat terkena sinar matahari.

Villa Isola yang kemudian berubah menjadi hotel Savoy Homann dan kini merupakan kantor rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) masih bisa dinikmati keindahannya. Restorasi beberapa bagian villa juga telah dilakukan pada tahun 2009 oleh pihak UPI dengan konsep eduturisme yang menggabungkan hutan kota sekaligus area penelitian. Diharapkan Villa Isola akan menjadi kawasan cagar budaya yang dapat diakses oleh seluruh kalangan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

CAPTCHA Validation *

Lost Password

Register