Share This Post

Bangunan

Lawang Sewu, Bangunan Antik di Semarang Dengan Arsitektur Megah dan Mengagumkan

Lawang Sewu, Bangunan Antik di Semarang Dengan Arsitektur Megah dan Mengagumkan

Siapa sih yang tak kenal banguanan legenda yang satu ini. Ya, bila Anda ke Semarang, Jawa Tengan memang Anda tak akan afdol bila Anda tak ke Lawang Sewu. Sebuah bangunan ikonik kota Semarang yang identik dengan banyaknya pintu yang dimiliki ini memang sangat unik dan menarik. Selain unik dan menarik bangunan yang di arsiteki Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag dari Belanda ini berdiri dengan megah dan mengagumkan. Meski saat ini Lawang Sewu juga dikaitkan dengan bangunan yang mistis atau angker tapi bangunan yang dibangun tahun 1904 dan selesai tahun 1919 untuk Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS-Kantor Pusat Administrasi Kereta Api) ini akan selalu menjadi spesial bagi siapa saja yang mendatanginya.

Bangunan Seribu Pintu

Nama Lawang Sewu berasal dari bahasa Jawa yang berarti seribu pintu. Dinamakan seribu pintu memang bangunan ini mempunyai pintu dan jendela yang jumlahnya sangat banyak, sehingga disebut “sewu” untuk menyebut sesuatu yang jumlahnya banyak di masyarakat Jawa. Persisnya sendiri pintu dan jendela yang ada di Lawang Sewu hanya berjumlah 928. Terkait banyaknya pintu dan jendela yang ada pada bangunan ini ternyata ada tujuan dan fungsi yang melekat padanya yaitu untuk mendapatkan sirkulasi udara yang lancar mengingat Indonesia adalah negara tropis yang memiliki suhu yang selalu tinggi sepanjang tahunnya. Selain memiliki seribu pintu, bangunan yang kini sudah berubah statusnya menjadi museum ini juga punya koneksi antarruang dengan pertimbangan keamanan.

Iklan

lawang-sewu2
Arsitektur Ruang Bawah Tanah Lawang Sewu

Satu hal lagi yang tak bisa dilupakan dari arsitektur Lawang Sewu adalah ruang bawah tanahnya. Ya, bangunan ini memang memiliki ruang bawah tanah yang difungsikan sebagai drainase atau saluran air yang canggih dan mengagumkan. Ruangan bawah tanah Lawang Sewu yang lembab, gelap dan berlangit-langit rendah ini juga pernah dijadikan penjara bagi para pejuang kemerdekaan di zaman penjajahan. Dan seiring dengan zaman kini ruangan yang digenangi air ini menjadi salah satu ruangan Lawang Sewu yang dianggap paling angker dan menakutkan.

Dibangun Tanpa Menggunakan Semen

Bicara soal arsitektur di Lawang Sewu memang akan membuat kita selalu berdecak kagum. Bagaimana tidak, bangunan yang kini dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia ini dibangun tanpa menggunakan semen. Tanpa semen? Lalu apa bahan untuk membangunnya? Ada yang mengatakan bahwa Lawang Sewu dibangun dengan adonan bligor, atau dalam bahasa lokal pese. Bligor (pese) sendiri adalah campuran pasir, kapur, dan batu bata merah. Dengan menggunakan bligor maka bangunan jadi tak mudah retak, lebih awet dan menyerap air, serta menjadikan ruangan jadi lebih sejuk. Dengan bahan bligor inilah kemudian gedung Lawang Sewu tak ditemukan retakan sedikit pun.

14lawang-sewu

Konstruksi Bangunan Tanpa Besi

Selain tanpa semen, hal menarik juga dari bangunan Lawang Sewu adalah konstruksinya yang tidak menggunakan besi. Untuk mengurangi tekanan maka atapnya yang ada dibuat berbentuk melengkung setengah lingkaran tiap setengah meternya. Struktur atap Lawang Sewu sendiri tersusun dari bata yang tertata miring layaknya struktur jembatan. Dan menariknya lagi bagian gedung Lawang Sewu yang dibangun tahun 1916 kemudian dibuat menggunakan besi dan material lokal. Ya saat di Eropa terjadi Perang Dunia I, maka membuat bahan bangunan seperti bata, genting, kaca, hingga ubin pada bagian gedung akhir Lawang Sewu ini harus diambil dari wilayah Semarang dan sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

CAPTCHA Validation *

Lost Password

Register