Share This Post

Bangunan

Gedung Sate, Bangunan Unik di Kota Bandung

Gedung Sate, Bangunan Unik di Kota Bandung

Jika kita bicara kota kembang Bandung, maka kita akan mendapati satu ikon khas dari ibu kota provinsi Jawa Barat ini yaitu Gedung Sate. Ya, bangunan yang memiliki ornamen tusuk sate pada menara sentralnya ini memang sudah populer di mata Indonesia dan dunia. Bagaimana tidak, Bangunan yang dibangun mulai tahun 1920 ini selalu jadi destinasi wisata kota Bandung dari setiap wisatawan yang datang kesana. Lalu seperti apakah kisah dan keunikan bangunan berwarna putih yang kini berfungsi sebagai gedung pusat pemerintahan Jawa Barat? Berikut ulasannya.

Dinamakan Gedung Sate

Selain dari bentuknya, gedung ini juga memiliki nama yang menarik yaitu gedung sate. Dari nama ini tentu saja akan banyak pertanyaan muncul yaitu mengapa bernama gedung sate? Apakah memang gedungnya mirip sate atau ada makanan satenya disana? Tentu saja nama gedung berlantai 3 dan memiliki luas 27.990,859 m2 ini bukan dikarenakan gedungnya yang bebentuk sate atau disana ada yang jualan sate. Tapi nama gedung sate yang dulunya bernama Gouvernements Bedrijven ini diberikan karena pada bagian atas gedung terdapat sebuah ornamen 6 tusuk sate. 6 tusuk sate ini sendiri memiliki arti 6 juta Gulden yang digunakan untuk membangun gedung tersebut.

1 AboutUrban Gedung Sate

Sekilas Sejarah Gedung Sate

Jika kita melihat sejarahnya, maka kita harus memulainya di tahun 1920, tepatnya di tanggal 27 Juli. Pada tanggal itu memang dimulai pertama kalinya peletakan batu pertama gedung sate (Gouvernements Bedrijven) oleh Johanna Catherina Coops, puteri sulung Walikota Bandung, B. Coops dan juga oleh Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia. Pembangunan gedung sendiri berjalan kurang lebih selama 4 tahun dimana pada September 1924, para pekerja telah berhasil menyelesaikan bangunan induknya, dimana ada beberapa bangunan seperti kantor pusat PTT (Pos, Telepon dan Telegraf) dan Perpustakaan yang ada di dalamnya.

Perancangan Arsitek Gedung Sate

Menilik arsitektur dari Gedung Sate ini maka kita akan mendapatkan satu sosok arsitek yaitu Ir. J. Gerber dan timnya. Namun ide bangunan ini juga tidak bisa juga dilepaskan dari sosok maestro arsitek Belanda Dr. Hendrik Petrus Berlage yang memberik masukannya. Dari ide Hendrik inilah kemudian Gedung Sate ini memiiki wajah yang bernuansa arsitektur tradisional Nusantara. Meski demikian banyak ahli yang menilai bahwa Gedung Sate ini memiliki gaya arsitektur unik Indo-Eropa, (Indo Europeeschen architectuur stijl).

2 AboutUrban Gedung Sate

Dalam perancangan gedung ini sendiri, Gerber memadukan beberapa aliran arsitektur. Misalnya untuk bagian jendela, Gerber mengambil tema Moor Spanyol, tapi pada bangunannya Geber mengambil tema Rennaisance Italia. Untuk bagian menara gedung, Gerber menerapkan gaya atap pura Bali atau pagoda di Thailand yang merupakan arsitektur dengan aliran Asia. Untuk memberi segi keunikanya, Gerber kemudian menerapkan ornamen 6 buah “tusuk sate” pada bagian puncak menaranya. Meski sudah sangat nampak seperti tusuk sate namun beberapa orang masih saja ada yang menyebutnya sebagai jambu air atau melati. Lalu kenapa 6 buah tusuk sate? Sebab angka ini dipilih untuk mewakili angka 6 juta gulden sebagai jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate.

Peracangan Gedung Sate ini juga nampak pada bagian Fasade (depan bangunan) yang diperhitungkan dengan sangat matang. Pada bagian Fasade ini sendiri, Gedung Sate dibuat dengan mengikuti sumbu poros utara-selatan. Dan mencontoh Gedung Pakuan yang menghadap Gunung Malabar di selatan, Gedung Sate juga dibuat dengan menghadapkan pada Gunung Tangkuban Perahu yang terletak di sebelah utara.

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

CAPTCHA Validation *

Lost Password

Register