Share This Post

Sosok

Nina Nuraniyah, Dicemooh Hingga Dirikan Yayasan Greena

Nina Nuraniyah

Berawal dari keikutsertaannya sebagai relawan di Rimbawan Muda Indonesia (RMI), sebuah LSM lingkungan di Bogor, Nina Nuraniyah telah menjadi sosok inspiratif dalam dunia pelestarian lingkungan di Indonesia. Tingkat kepeduliannya terhadap lingkungan memang tak perlu diragukan lagi. Saat bicara soal sampah, semangatnya langsung menggebu. Dengan pengalaman dibidang pelestarian lingkungan yang begitu panjang, Nina memang punya segudang wawasan dan gagasan untuk disampaikan. Bersama yayasan Greena yang dirintis sejak tahun 2011, Nina telah banyak meraih penghargaan sebagai sosok inpiratif dibidang pelestarian lingkungan. Lalu seperti apakah sosok perempuan kelahiran Bogor, 10 Desember 1983 ini? Berikut ulasannya.

Dari Mahasiswa Kupu-kupu Menjadi Aktivis

Meski merupakan seorang aktivis lingkungan yang sangat sibuk, namun Nina Nuraniyah saat kuliah adalah mahasiswa bertipe kupu-kupu yakni kuliah pulang – kuliah pulang. Tapi sejak pertemuannya dengan Rimbawan Muda Indonesia (RMI), sebuah LSM lingkungan di Bogor pada ajang pameran, Nina berubah menjadi seroang yang sangat sibuk dengan kegiatan sosial. Saat bergabung dengan RMI sebagai relawan, mahasiswa lulusan jurusan MIPA Institut Pertanian Bogor tahun 2004 ini bahkan harus bepergian ke berbagai daerah di Indonesia untuk belajar tentang lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Iklan

Jiwa peduli pada lingkungan memang seketika muncul saat Nina bergabung dengan RMI. Namun karena kekhawatiran orangtuanya membuat Nina harus kembali ke Bogor setelah 5 tahun bersama RMI menyusuri beberapa wilayah di Indonesia. Meski sempat merasa bimbang dengan keputusannya kembali ke Bogor, tapi Nina menemukan hal yang ternyata lebih urgent di lingkungan rumahnya untuk dibenahi. Hal ini karena lingkungan sekitar rumahnya di Bogor dijumpai banyaknya masyakarat yang tak peduli lingkungan dengan membuang sampah sembarangan.

AboutUrban Nina Nuraniyah Dicemooh Hingga Dirikan Yayasan Greena

Membuat Program Green Earth dan Dicemooh Orang

Untuk mengatasi problem lingkungan di sekitar tempat tinggalnya tersebut, Nina bersama teman-temannya kemudian membuat program Green Earth. Diawal programnya, Green Earth mendapatkan dukungan hingga kemudian melahirkan Komunitas Peduli Lingkungan (Kopling). Tapi saat dirinya memfokuskan diri pada di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, Nina mulai mendapat tantangan karena dirinya yang ditinggal teman-temannya dan juga dicemooh orang.

Hal yang membuat Nina dicemooh adalah karena inisiatifnya yang mengajak orang-orang untuk mengolah dan mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang lebih berguna. Kegiatan ini dianggap beberapa orang merupakan sesuatu yang fakir dan tidak diperbolehkan agama. Namun meski ditinggal teman-temannya dan dicemooh orang, Nina tak patah arang. Dengan idealisme dan dukungan dari teman-temannya di Jepang, Nina terus melanjutkan programnya meski harus merogok kocek dari kantong sendiri.

Terus Bertumbuh dan Mendirikan Yayasan Greena

Dari ketekunan Nina menjalankan programnya, kegiatan pengolahan dengan konsep bank sampah pun mulai mendapat respon positif. Ini karena banyak masyarakat yang terbantu perekonomiannya setelah ikut program ini. Karena mengalami pertumbuhan, pada tahun 2011, Nina mendirikan sebuah yayasan non profit bernama Greena. Greena sendiri memiliki program yang lebih kompleks yakni selain memberi penyuluhan juga memproduksi produk dari daur ulang sampah.

Tidak hanya mendapat dukungan dari masyarakat setempat, Greena pun kemudian memperoleh dukungan dari pemerintah setempat. Wujud dukungan pemerintah Bogor pada Greena adalah adanya bantuan mesin pengolahan sampah. Dari sini usaha Greena semakin maju dan membuat Nina berhasil membuat Desa Cisalopa menjadi desa percontohan pengolahan sampah terpadu.

Penghargaan dan Rencana Ke Depan

Tidak hanya perkembangan Yayasan Greena yang kini bisa dirasakan Nina. Tapi beberapa penghargaan juga mampir ke wanita yang telah menulis buku “Menepis Kabut Halimun (Rangkaian Bunga Rampai Pengelolaan Sumberdaya Alam di Halimun)” tersebut. Beberapa penghargaan yang telah didapat Nina antara lain Tupperware She Can Awards 2013 kategori Lingkungan (2013), Indonesia Digital Women Award 2013 from Telkom Indonesia, Get Inspired BBC 2011 dan Pioner youth from West Java, Shell LIve Wire Indonesia, Categories of most impactful start up business (2015) dan lainnya.

Meski telah sukses, Nina tak berbangga diri. Ia berencana ingin terus mengembangkan Yayasan Greena dengan menghadirkan beberap program baru seperti Edu Eco Tourism di Desa Cisalopa. Selain itu juga direncanakan program Waste Management Service, yaitu kegiatan mengajak masyarakat khususnya pelajar untuk bersama-sama mengolah sampah sekolah menjadi produk bernilai ekonomis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

CAPTCHA Validation *

Lost Password

Register